Wajo-getarnews.com Bupati Wajo Andi Rosman menegaskan bahwa kegiatan Tudang Sipulung (duduk bersama) bukan sekedar acara seremonial tahunan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang melimpah.
Menurutnya, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam, yaitu sebagai warisan leluhur yang sarat nilai partisipatif dan mengandung filosofi pembangunan yang berorientasi pada rakyat.
“Inilah sebenarnya warisan leluhur – pengajaran tentang model pembangunan partisipatif. Pemerintah dapat mendengarkan secara langsung apa yang menjadi permasalahan dan harapan petani. Bukan program yang hanya selesai di atas meja,” ujar Andi Rosman dalam sambutannya, Rabu (5/11/2025).

Bupati berharap agar kegiatan Tudang Sipulung yang dilanjutkan dengan Manre Sipulung (makan bersama) tidak hanya menjadi tradisi tahunan semata, tetapi dijadikan sebagai kalender kegiatan tetap Kabupaten Wajo.
Lebih dari itu, Andi Rosman menilai momen ini sebagai ajang silaturahmi dan evaluasi antara petani dan pemerintah, untuk bersama-sama merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan petani di Wajo.
Kegiatan Tudang Sipulung kali ini dihadiri oleh berbagai kelompok tani se-Kabupaten Wajo, tokoh masyarakat, serta jajaran pemerintah daerah yang turut berdialog dan berdiskusi terkait berbagai persoalan pertanian di daerah tersebut.