BARRU — getarnews.com Wakil Bupati Barru, Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif dalam menangani persoalan sampah, mulai dari lingkungan rumah tangga. Menurutnya, penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan petugas kebersihan, tetapi membutuhkan perubahan perilaku serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Abustan saat menghadiri kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sosialisasi Penanganan Sampah, Kedaruratan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), dan/atau Pengelolaan Limbah B3 di Kabupaten Barru, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Youtefa Barru tersebut diselenggarakan oleh Anggota DPR RI Komisi XII Fraksi Demokrat, Andi Muzakkir Aqil, bersama Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Dalam sambutannya, Abustan menegaskan bahwa persoalan sampah telah menjadi masalah serius yang membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah harus dibangun sejak dari rumah tangga.
“Kalau kita berbicara tentang sampah, ini sudah menjadi darurat nasional. Karena itu, kesadaran masyarakat harus dibangun mulai dari rumah. Sampah harus dipilah, bukan dicampur begitu saja,” tegasnya.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, mulai dari kendaraan ke jalan, saluran drainase, hingga sungai. Perilaku tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi menyumbat saluran air dan memicu banjir saat musim hujan.
Abustan juga mengingatkan bahwa Kabupaten Barru memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 78 kilometer. Kondisi geografis tersebut membuat kawasan pesisir rentan terhadap penumpukan sampah plastik, terutama ketika musim barat membawa sampah dari berbagai wilayah.
“Sudah beberapa kali kita turun membersihkan pantai, tetapi tidak lama kemudian sampah kembali menumpuk. Ini menunjukkan bahwa membersihkan saja tidak cukup. Yang paling penting adalah menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan,” ujarnya.
Sampah Dipilah, Bernilai Ekonomi
Selain menekankan pentingnya perubahan perilaku, Abustan mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, sampah yang dipilah dengan benar dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi beban pengelolaan di tempat pemrosesan akhir.
Sampah plastik, misalnya, dapat dikumpulkan untuk dijual kembali, sedangkan sampah organik bisa diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman di pekarangan rumah.
Karena itu, ia mendorong penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), yaitu mengurangi penggunaan sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mendaur ulang material yang dapat dimanfaatkan.
“Kalau ada sampah plastik, kumpulkan. Jangan langsung dibuang karena masih memiliki nilai ekonomi. Sampah organik juga bisa diolah menjadi kompos untuk tanaman sayur dan bunga di rumah,” jelasnya.
Abustan juga mengimbau masyarakat mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai, salah satunya dengan membiasakan membawa botol minum atau tumbler sendiri.
Pengendara kendaraan bermotor pun diingatkan agar menyediakan tempat sampah di dalam kendaraan sehingga tidak membuang sampah ke jalan.
Dorong Penegakan Aturan dan Kolaborasi
Lebih lanjut, Abustan menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk membangun budaya bersih di Kabupaten Barru. Menurutnya, program kebersihan harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial atau aksi bersih-bersih sesaat.
Pembersihan drainase dan lingkungan permukiman juga perlu menjadi perhatian bersama guna mencegah penumpukan sampah yang berpotensi menyebabkan banjir.
Ia turut mendorong penguatan regulasi dan penegakan aturan terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam kesempatan tersebut, Abustan membagikan pengalamannya mengikuti short course di Jepang pada 2012. Ia menyampaikan bahwa pemilahan sampah dan kedisiplinan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang baik.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan armada pengangkut dan fasilitas pengolahan, tetapi juga oleh kedisiplinan masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Direktorat Penanganan Sampah dan Kedaruratan Pengelolaan B3 dan/atau Pengelolaan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup RI, Redny Tota Sihite, selaku Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya.
Hadir pula pegiat lingkungan Muh. Aspatillah, S.ST., M.T., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Barru A. Adnan Azis, S.STP., M.Si., para peserta bimbingan teknis, serta insan pers.
Melalui kegiatan tersebut, Abustan berharap peserta dapat meningkatkan pemahaman mengenai penanganan sampah, kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan pengelolaan B3, serta tata kelola limbah B3 yang aman dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah dan limbah membutuhkan keterlibatan semua pihak agar upaya menjaga kebersihan, kesehatan masyarakat, dan kelestarian lingkungan dapat berjalan secara konsisten.
“Mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah, dan mulai hari ini. Kalau kesadaran ini tumbuh, persoalan sampah akan lebih mudah kita tangani bersama,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan Kabupaten Barru yang bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan.