Wajo-getarnews.com Tradisi tudang sipulung (duduk bersama) dan manre sipulung (makan bersama) merupakan warisan adat Bugis yang sarat makna dan dinilai semakin berharga untuk dijaga di tengah perubahan zaman. Hal itu disampaikan Bupati Wajo, Andi Rosman, saat Pemerintah Kabupaten Wajo kembali menggelar kegiatan tudang sipulung dan manre sipulung di Jalan Pelabuhan, Jembatan Gantung, Kelurahan Baru, Tancung, Kecamatan Tanasitolo, Selasa (2/12).
Dalam sambutannya, Bupati Andi Rosman menegaskan bahwa penyelenggaraan tradisi ini menjadi momentum memperkuat semangat kekeluargaan dan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.
“Tudang sipulung dan manre sipulung memang lahir dari orang tua kita, orang Bugis. Namun nilai-nilainya tetap sejalan dengan tuntutan zaman. Dari perspektif demokrasi, kegiatan ini mendukung pembangunan partisipatif, memperkuat persatuan, serta kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Andi Rosman.
Bupati yang dikenal sederhana ini juga menekankan bahwa manre sipulung mengandung makna sosial yang kuat, yaitu kebersamaan, tenggang rasa, dan saling menghargai.

“Tradisi ini harus kita lestarikan sebagai perekat. Sebagai pemimpin daerah, saya berharap tidak ada lagi sekat antara pemerintah dan masyarakat. Saatnya kita membangun sinergi bersama untuk kemajuan Wajo,” ajaknya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Andi Rosman turut menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam memajukan daerah. Ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Wajo kini berada pada peringkat ke-11 produksi pertanian nasional, sebuah capaian yang menurutnya harus terus ditingkatkan.
Acara tudang sipulung dan manre sipulung ini dihadiri oleh unsur Forkopimda, Pimpinan DPRD Wajo, Kejari, Forkopimda, serta tokoh dan elemen masyarakat Kecamatan Tanasitolo. Kegiatan berlangsung penuh keakraban, mencerminkan esensi tradisi Bugis yang mengutamakan musyawarah, kebersamaan, dan persaudaraan.